Ketika penulis masih bersekolah di Canada, sering penulis melihat coretan (grafiti) di kampus (di WC atau tempat-tempat lain) yang berisi kata-kata: "Engineers Rule!". Insinyur berkuasa!. Wah, apa benar?.
Menurut ceritanya, di tahun 1921 Thorstein Veblen menulis dalam buku "The Engineers and the Price System" bahwa suatu saat engineers akan menguasai ekonomi Amerika. Ini disebabkan ekonomi yang ada berbasis teknologi dan "engineers"lah yang paham akan teknologi. Mulai dari teknologi mesin (uap) sampai teknologi informasi, para insinyur lah yang mengerti potensinya. Memang pada mulanya para insinyur hanya menjadi pekerja saja dan tidak terlibat dalam bisnis. (Catatan: Engineers ini mungkin di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan secara bebas menjadi insinyur, meskipun dalam hal konteks ini engineers tidak harus bergelar atau lulusan perguruan tinggi. Penulis juga hanya percaya saja bahwa Veblen menulis buku itu. Ada yang punya buku Veblen ini? Boleh numpang baca?)
Nampaknya prediksi dari Veblen ini menjadi kenyataan pada saat ini. Ekonomi baru, yang sering disebut "Digital Economy" ini sangat sarat dengan teknologi. Bahkan kata "digital" sendiri berasal dari sebuah teknologi digital (sebagai lawan dari analog) yang banyak mempengaruhi oleh teknologi komputer. Pasar modal Nasdaq yang sarat dengan perusahaan teknologi menjadi acuan bagi pemain saham. Para insinyur akhirnya menjadi pahlawan ekonomi. Sebut saja Jim Clark, seorang akademisi yang kemudian mendirikan perusahaan Silicon Graphics (SGI), Netscape, dan beberapa perusahaan teknologi lainnya (seperti Healtheon). Kemudian Bill Joy dari Sun Microsystems yang mengembangkan sistem operasi Sun dan Java, dimana keduanya mendominasi Internet saat ini. Kemudian juga John Hennessy, profesor dari Stanford University yang mendirikan perusahaan komputer MIPS (yang kemudian dibeli oleh SGI). Bahkan saat ini Hennessy menjadi rektor dari Stanford University. Yahoo! juga didirikan oleh mahasiswa engineering, Jerry Yang dan Dave Filo. Dan masih banyak cerita lainnya. Inti yang ingin disampaikan bahwa nampaknya memang prediksi Veblen telah menjadi kenyataan.
[Catatan: untuk melihat pahlawan ekonomi ini silahkan lihat situs web Ensiklomedia: <http://ensiklomedia.insan.co.id> dan cek ke bagian "who's who" (apa dan siapa). Di sana ada informasi tentang tokoh-tokoh yang disebut di atas.]
Memang ini cerita di Amerika Serikat dan lebih spesifik cerita di Silicon Valley. Atau malah mungkin ini hanya "kasus" yang melibatkan Stanford University? Memang banyak perusahaan yang memiliki akar di Stanford University. Cisco, salah satu contohnya, tumbuh dari gedung yang sama dengan cikal bakal Sun Microsystems dan Silicon Graphics. Belum lagi mahasiswanya yang kemudian mendirikan perusahaan seperti Hotmail (free web-based email), Google (search engine), dan masih banyak lainnya.
Bagaimana dengan Indonesia? Perguruan tinggi yang menghasilkan insinyur sudah banyak. Akan tetapi efek atau dampaknya di bidang ekonomi belum terlihat. Yang jelas, mereka mengantongi gelar insinyur. Mungkin ini karena ekonomi Indonesia masih belum (tidak) berbasis kepada teknologi?. Para insinyur di Indonesia ini juga tidak dibekali dengan landasan management, bisnis (ekonomi) atau entrepreneurship sehingga jadinya mereka hanya mampu dan lebih suka mengendalikan mesin dan robot saja. Untuk mengelola orang, biasanya mereka enggan atau tidak mampu. Padahal mereka punya potensi untuk memberikan kontribusi yang besar, melalui ekonomi, terhadap negara kita ini. Di Stanford, misalnya, mata kuliah entrepreneurship sudah ada selain banyaknya alumni yang kembali ke kampus untuk bercerita tentang pengalamannya di dunia industri. Kapan di Indonesia ya?
Bahan bacaan