oleh Budi Rahardjo, an open source programmer.
Belakangan ini istilah "open source" mulai banyak terdengar di berbagai media dan mailing list di Indonesia. Ada yang ingin Pemerintah membuat deklarasi menggunakan open source. Sayangnya banyak yang tidak mengerti dan (mungkin) hanya ingin ikut mendompleng popularitas open source. Nanti kalau kegiatan open source sudah mulai kurang populer, dugaan saya akan rame-rame meninggalkannya.
Konsep open source pada intinya adalah membuka "source code" dari sebuah software. Konsep ini terasa aneh pada awalnya dikarenakan source code merupakan kunci dari sebuah software. Dengan diketahui logika yang ada di source code, maka orang lain semestinya dapat membuat software yang sama fungsinya. Open source hanya sebatas itu. Artinya, dia tidak harus gratis. Saya bisa saja membuat software yang saya buka source codenya, mempatenkan algoritmanya, medaftarkan hak cipta atau copyright, dan tetap menjual software tersebut secara komersial (alias tidak gratis). Meskipun hal ini agak aneh dan tidak intuitif, source code dibuka tapi tetap tidak gratis, hal ini tetap dimungkinkan. Jangan heran dulu. Lah, konsep open source juga dulunya (mungkin masih) bikin orang bingung. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak tentang konsep open source ini, silahkan baca buku Eric S. Raymond, "The Cathedral & The Bazaar: musing on linux and open source by an accidental revolutionary," O'Reilly, 1999.
Salah satu kunci utama dari open source adalah terbukanya source code. Artinya, kalau source code tersebut tidak dibaca, diulik, diubah sana-sini, lantas apa manfaatnya?. Jika memang tidak untuk dilihat, lebih baik ya closed source saja. Lebih baik pakai produk komersial seperti produk Microsoft saja. Ini yang saya tidak mengerti. Ya, saya mengerti bahwa ketersediaan source code dapat digunakan sebagai sebuah jaminan. Namun jika source code ini tidak dimengerti, tidak dioprek, dimana keuntungannya?
Di Indonesia, yang banyak ribut tentang masalah open source saat ini adalah orang-orang yang tidak mengerti masalah coding, source code, dan implikasinya. Berapa banyak orang Indonesia yang terlibat dengan coding open source ini? Lantas mengapa mereka, orang yang tidak mengerti ini, ribut tentang open source? Apa maunya sih? Ataukah ingin mendompleng pada popularitas (hotnya) open source saja? Setelah open source tidak terlalu ramai lagi, mereka pasti akan pindah ke topik berikutnya. Bahkan kalau perlu ikut menyalahkan dan memaki-maki open source. Jadi, kita ini serius atau hanya main-main saja? Kita tunggu saja...