Menggunakan Teknologi Informasi Untuk Menyatukan Bangsa oleh Budi Rahardjo Teknologi digunakan untuk mengatasi masalah, kendala atau ketidakmampuan kita pada sesuatu. Sebagai contoh, ketika seseorang memiliki masalah dengan matanya maka kita menggunakan teknologi yang berhubungan dengan optik untuk membuat kacamata. Demikian pula teknologi informasi sebenarnya dapat digunakan untuk memecahkan masalah kita. Namun, umumnya kita sering lebih terpaku pada teknologinya itu sendiri. Misalnya, kita lebih terpana dengan meningkatnya kecepatan prosesor yang sudah melewati batas 1 GHz. Atau kita melihat semakin kecilnya notebook. Jadi teknologinya sendiri yang masih menjadi fokus belum "hilang" atau menjadi "ubiquitous". Di bidang lain ada beberapa teknologi yang sudah "hilang" dan tidak menjadi fokus utama lagi. Misalnya ketika anda mengendarai mobil, maka tidak terpikirkan oleh anda tentang "combustion engine". Demikian pula ketika kita membaca surat kabar, tidak terpikir teknologi percetakan yang direvolusi oleh Gutenberg. Dan seterusnya. Teknologi-teknologi tersebut digunakan untuk memecahkan masalah tertentu. Dalam tulisan ini saya coba sajikan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi sebuah masalah. Masalah yang kita hadapi berkaitan dengan situasi di Indonesia yang tak menentu. Saya tahu, anda sudah bosan dengan ulasan di surat kabar. (Itulah sebabnya saya jarang membaca surat kabar lagi.) Mari kita lihat sudut pandang lain dan apa yang dapat kita perbuat (tanpa perlu menunggu). Banyak orang yang mengatakan bahwa masalah di Indonesia ini disebabkan oleh karena bentuk fisik tanah air kita ini yang kepulauan, luas, tersebar. Kemudian ada kultur yang beragam. Akibatnya kita sulit berkomunikasi. Salah komunikasi sedikit berakibat baku hantam dan bahkan sampai bunuh-bunuhan. Nah, apakah teknologi informasi dapat mengatasi masalah kita ini? Apakah teknologi informasi dapat mempersatukan kita? Masalah di atas terkait dengan ketidaktahuan kita tentang diri kita sendiri. Coba saya tanya kepada anda: - Berapa jumlah propinsi Indonesia saat ini? Nah lo. - Siapa Gubernur Jawa Barat? Saya yakin sebagian besar tidak tahu. Padahal, banyak orang yang tahu siapa Alan Greenspan, Bill Gates. - Nomor polisi kendaraan yang dimulai dengan huruf "Z" berasal dari kota mana? Nah... jika hal-hal seperti itu saja tidak tahu, bagaimana kita bisa tahu potensi daerah. Padahal katanya mau otonomi daerah. Mengerikan! Informasi tersebut sebetulnya ada. Namun kita belum terbiasa mendokumentasikan informasi dengan baik. Bahkan katanya teks Super Semar bisa hilang. Bagaimana bisa ini? Katanya mau ISO 9000. Bah! Salah satu bentuk "produk" dari teknologi informasi adalah World Wide Web. Teknologi ini memungkinkan orang untuk bertukar (sharring) informasi. Sharring informasi ini tidak susah, tidak mahal, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Saya justru heran jika orang sampai hutang jutaan dolar hanya untuk membuat informasi tentang kita. Sebagai contoh, saya membuat situs "The Ultimate Indonesian homepage" sebagai tempat untuk sharring informasi dengan siapa saja di seluruh dunia. Target audience saya memang orang asing yang ingin tahu Indonesia, atau orang Indonesia yang berada di luar negeri. Itulah sebabnya informasi ditulis dalam bahasa Inggris. Situs ini sudah saya mulai di awal tahun 1990-an (mungkin tahun 1994) dan sampai sekarang masih saya kelola. Informasi yang saya simpan di sini mungkin diketawain anda, seperti teks lagu Indonesia raya, atau cerita tentang plat nomor mobil, dan sebagainya. Bagi orang asing, informasi seperti ini adalah emas, harta karun! Informasi ini saya kumpulkan karena saya membutuhkannya (ketika saya berada di luar negeri). Memang benar, "necessity is the mother of invention". Situs yang saya kelola ini jalan dengan baik (dengan banyak pengunjung, paling sedikit ada 1500 pengunjung seharinya) karena memang minat dan "passion" saya ada di sana. Nah, mengapa anda tidak memulai membuat tulisan-tulisan tentang apa saja yang menarik bagi anda sendiri? Pasti anda punya informasi yang menarik. Setiap orang memiliki informasi yang menarik. Setiap orang memiliki passion yang berbeda. Jika saja ada 100 orang Indonesia yang bertutur cerita tentang kita, mungkin kita bisa lebih mengerti tentang siapa kita. Dan mudah-mudahan kita bisa lebih saling mengerti dan tidak langsung main hantam saja. Di lain waktu saya akan cerita lebih banyak tentang aplikasi teknologi informasi untuk town house meeting. Oh ya, saya mencari situs yang bercerita Bahasa Sunda. Maklum, anak-anak mendapat pelajaran Bahasa Sunda, dan saya tidak terlalu paham. Ada yang tahu?